Lewati ke konten utama
Beranda / Penulis

Profil penulis

SARIPUDDIN

4 karya publik ditemukan.

2026: 22022: 2

Analisis kualitas sedimen pada caren tambak budidaya udang windu sistem tradisional pulau tibi kabupaten Bulungan

2026 · Book ·

Kualitas sedimen merupakan salah satu faktor penting yang memengaruhi keberhasilan budidaya udang windu (Penaeus monodon), terutama pada bagian caren tambak yang berfungsi sebagai zona akumulasi sedimen, bahan organik, dan senyawa hasil dekomposisi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kualitas sedimen pada caren tambak budidaya udang windu sistem tradisional di Pulau Tibi, Kabupaten Bulungan, berdasarkan parameter pH, bahan organik, fosfat, tekstur tanah, potensi redoks, nitrat, kalium, amonia, dan pirit serta membandingkannya dengan baku mutu yang berlaku. Penelitian dilaksanakan pada bulan September sampai Desember 2024 dengan metode deskriptif kuantitatif. Pengambilan sampel dilakukan secara purposive sampling pada dua stasiun caren tambak. Sampel sedimen diambil pada beberapa titik, dikompositkan, kemudian dianalisis di laboratorium. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pH sedimen pada Stasiun 1 dan Stasiun 2 masing-masing sebesar 3,99 dan 4,42, sehingga berada di bawah baku mutu. Kandungan bahan organik sebesar 3,35% dan 3,12% serta potensi redoks sebesar 200,57 mV dan 231,04 mV masih memenuhi baku mutu. Sebaliknya, kandungan fosfat sebesar 184 ppm dan 156,5 ppm, kalium sebesar 12,88 me/100 g dan 12,57 me/100 g, amonia sebesar 46,61 mg/L dan 43,60 mg/L, serta pirit sebesar 9,49% dan 7,38% melebihi baku mutu. Kandungan nitrat sebesar 0,0028% dan 0,0020% berada di bawah kisaran optimum, sedangkan tekstur sedimen pada kedua stasiun tergolong lempung berdebu dengan dominasi fraksi debu. Berdasarkan hasil tersebut, kualitas sedimen pada caren tambak budidaya udang windu sistem tradisional di Pulau Tibi secara umum belum optimal untuk mendukung kegiatan budidaya. Faktor pembatas utama adalah rendahnya pH, tingginya fosfat, amonia, kalium, dan pirit, serta tekstur sedimen yang didominasi oleh fraksi debu. Kata kunci: kualitas sedimen, caren tambak, udang windu, tambak tradisional.

Analisis kualitas sedimen pada caren tambak budidaya udang windu sistem tradisional pulau tibi kabupaten Bulungan

2026 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Kualitas sedimen merupakan salah satu faktor penting yang memengaruhi keberhasilan budidaya udang windu (Penaeus monodon), terutama pada bagian caren tambak yang berfungsi sebagai zona akumulasi sedimen, bahan organik, dan senyawa hasil dekomposisi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kualitas sedimen pada caren tambak budidaya udang windu sistem tradisional di Pulau Tibi, Kabupaten Bulungan, berdasarkan parameter pH, bahan organik, fosfat, tekstur tanah, potensi redoks, nitrat, kalium, amonia, dan pirit serta membandingkannya dengan baku mutu yang berlaku. Penelitian dilaksanakan pada bulan September sampai Desember 2024 dengan metode deskriptif kuantitatif. Pengambilan sampel dilakukan secara purposive sampling pada dua stasiun caren tambak. Sampel sedimen diambil pada beberapa titik, dikompositkan, kemudian dianalisis di laboratorium. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pH sedimen pada Stasiun 1 dan Stasiun 2 masing-masing sebesar 3,99 dan 4,42, sehingga berada di bawah baku mutu. Kandungan bahan organik sebesar 3,35% dan 3,12% serta potensi redoks sebesar 200,57 mV dan 231,04 mV masih memenuhi baku mutu. Sebaliknya, kandungan fosfat sebesar 184 ppm dan 156,5 ppm, kalium sebesar 12,88 me/100 g dan 12,57 me/100 g, amonia sebesar 46,61 mg/L dan 43,60 mg/L, serta pirit sebesar 9,49% dan 7,38% melebihi baku mutu. Kandungan nitrat sebesar 0,0028% dan 0,0020% berada di bawah kisaran optimum, sedangkan tekstur sedimen pada kedua stasiun tergolong lempung berdebu dengan dominasi fraksi debu. Berdasarkan hasil tersebut, kualitas sedimen pada caren tambak budidaya udang windu sistem tradisional di Pulau Tibi secara umum belum optimal untuk mendukung kegiatan budidaya. Faktor pembatas utama adalah rendahnya pH, tingginya fosfat, amonia, kalium, dan pirit, serta tekstur sedimen yang didominasi oleh fraksi debu. Kata kunci: kualitas sedimen, caren tambak, udang windu, tambak tradisional.

DISTRIBUSI JENIS DAN UKURAN HASIL TANGKAPAN JARING INSANG (GILL NET) DI PERAIRAN JUATA LAUT KOTA TARAKAN

2022 · Book · Koleksi Perpustakaan

Perikanan tangkapan di Kota Tarakan dimanfaatkan sebagian besar oleh masyarakat pesisir setempat sebagai mata pencaharian, tidak terkecuali masyarakat yang berada di Juata Laut. Nelayan di Juata Laut menggunakan alat tangkap jaring insang sebagai salah satu alat tangkap yang digunakan. Tujuan penelitian mengetahui proporsi dan kategori tangkapan dalam individu (ekor) dan berat (gram) hasil tangkapan jaring insang di perairan Juata Laut Kota Tarakan. Mengetahui distribusi individu (ekor) dan frekuensi ukuran Panjang Berat dan Berat Total ikan hasil tangkapan utama jaring insang di perairan Juata Laut Kota Tarakan. Mengetahui Hubungan Panjang Berat ikan hasil tangkapan utama jaring insang di perairan Juata Laut Kota Tarakan. Penelitian dilaksanakan dari Maret –Juni 2021 di perairan Juata Laut, dengan metode penelitian deskriptif kuantitatif dengan pendekatan observasi dan survei. Hasil penelitian menunjukkan proporsi dan kategori tangkapan dari hasil tangkapan jaring insang di perairan Juata Laut selama 8 kali pengambilan sampel yang dominan adalah tangkapan utama yaitu ikan putih (Trachinotus sp.), ikan merah (Lutjanus sp.), dan ikan kakap (Lates sp.) dengan persentase tangkapan sebanyak 38.%. Kemudian pada hasil tangkapan sampingan dengan persentase tangkapan sebanyak 36% dan hasil tangkapan buangan dengan persentase tangkapan sebanyak 26%. Hasil penelitian yang dilakukan di perairan Juata Laut Kota Tarakan selama 8 kali pengambilan sampel dengan menggunakan alat tangkap jaring insang, menunjukkan bahwa ada beberapa jenis ikan yang tertangkap yaitu sebanyak 32 ekor yang terdiri dari 3 jenis ikan tankapa utama, setiap masing-masing ikan memiliki nilai Frekuensi Panjang Total dan Frekuensi Berat Total yang berbeda. Tangkapan utama yang tertangkap dengan menggunakan alat tangkap jaring insang bersifat allometrik negatif dengan pola pertumbuhan (n3) yang artinya pertumbuhan berat lebih lambat daripada pertambahan panjangnya Kata Kunci: Jaring insang, Distribusi jenis dan ukuran, Hubungan Panjang dan Berat

DISTRIBUSI JENIS DAN UKURAN HASIL TANGKAPAN JARING INSANG (GILL NET) DI PERAIRAN JUATA LAUT KOTA TARAKAN

2022 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Perikanan tangkapan di Kota Tarakan dimanfaatkan sebagian besar oleh masyarakat pesisir setempat sebagai mata pencaharian, tidak terkecuali masyarakat yang berada di Juata Laut. Nelayan di Juata Laut menggunakan alat tangkap jaring insang sebagai salah satu alat tangkap yang digunakan. Tujuan penelitian mengetahui proporsi dan kategori tangkapan dalam individu (ekor) dan berat (gram) hasil tangkapan jaring insang di perairan Juata Laut Kota Tarakan. Mengetahui distribusi individu (ekor) dan frekuensi ukuran Panjang Berat dan Berat Total ikan hasil tangkapan utama jaring insang di perairan Juata Laut Kota Tarakan. Mengetahui Hubungan Panjang Berat ikan hasil tangkapan utama jaring insang di perairan Juata Laut Kota Tarakan. Penelitian dilaksanakan dari Maret –Juni 2021 di perairan Juata Laut, dengan metode penelitian deskriptif kuantitatif dengan pendekatan observasi dan survei. Hasil penelitian menunjukkan proporsi dan kategori tangkapan dari hasil tangkapan jaring insang di perairan Juata Laut selama 8 kali pengambilan sampel yang dominan adalah tangkapan utama yaitu ikan putih (Trachinotus sp.), ikan merah (Lutjanus sp.), dan ikan kakap (Lates sp.) dengan persentase tangkapan sebanyak 38.%. Kemudian pada hasil tangkapan sampingan dengan persentase tangkapan sebanyak 36% dan hasil tangkapan buangan dengan persentase tangkapan sebanyak 26%. Hasil penelitian yang dilakukan di perairan Juata Laut Kota Tarakan selama 8 kali pengambilan sampel dengan menggunakan alat tangkap jaring insang, menunjukkan bahwa ada beberapa jenis ikan yang tertangkap yaitu sebanyak 32 ekor yang terdiri dari 3 jenis ikan tankapa utama, setiap masing-masing ikan memiliki nilai Frekuensi Panjang Total dan Frekuensi Berat Total yang berbeda. Tangkapan utama yang tertangkap dengan menggunakan alat tangkap jaring insang bersifat allometrik negatif dengan pola pertumbuhan (n3) yang artinya pertumbuhan berat lebih lambat daripada pertambahan panjangnya Kata Kunci: Jaring insang, Distribusi jenis dan ukuran, Hubungan Panjang dan Berat