DAYA PIKAT TANAMAN REFUGIA DAN GULMA TERHADAP MUSUH ALAMI DI AREAL BUDIDAYA TANAMAN KELAPA SAWIT (ELAEIS GUINEENSIS)
Pemanfaatan tumbuhan berbunga (refugia) dalam rangka memikat musuh alami hadir di areal budidaya, merupakan bagian dari pendekatan pengendalian hayati secara konservasi. Potensi gulma berbunga pada areal budidaya tanaman kelapa sawit, serta penanaman refugia, merupakan upaya rekayasa meningkatkan keberlanjutan musuh alami di areal tersebut. Penelitian ini bertujuan mengetahui dan membandingkan komposisi musuh alami pada areal budidaya tanaman kelapa sawit yang ditanami refugia dan hanya ditumbuhi oleh gulma. Penelitian survey dengan melakukan sampel musuh alami pada petak gulma tanpa tanaman refugia (GO), Gulma dan tanaman kenikir (GT), Gulma dan tanaman bunga matahari (GM), dan Gulma, tanaman kenikir dan tanaman bunga kertas (GMT). Jumlah petak pengamatan masing-masing sebanyak 4 kali. Pengambilan data utama utama berupa jenis dan jumlah (komposisi) arthropoda menggunakan jaring ayun selama 4 kali pengambilan. Selain itu, dilakukan analisis nilai SDR gulma, jumlah bunga, dan warna pada masing-masing unit percobaan. Data dianalisis menggunakan analisis deskriptif, dengan membandingkan rata-rata antar variabel, serta hubungan antara variabel jumlah bunga dan jumlah individu musuh alami menggunakan analisis regresi dan korelasi. Hasil penelitian menunjukkan Komposisi spesies musuh alami pada areal tumuhan gulma dan tambahan tumbuhan refugia terdiri dari 5 Ordo, 11 Famili, dan 14 Spesies. Spesies Bathyphantes nigrinus merupakan predator yang dominan dari kelompok laba-laba dan dari kelompok insekta dari spesies Cosmolestes picticep. Terdapat perbedaan rata-rata jumlah dan individu spesies musuh alami pada areal budidaya tanaman kelapa sawit yang hanya ditumbuhi gulma dan tambahan tanaman refugia, dan petak yang terdapat tambahan tanaman refugia memiliki jumlah individu musuh alami lebih tinggi. Selanjutnya, terdapat hubungan positif dan nyata antara jumlah bunga dan jumlah individu musuh alami.